Bercerita tentang merawat orang lain

Oleh Irina Todorova, Pusat Penelitian Psikologi Kesehatan di Sofia, Bulgaria

Merawat orang tercinta yang lanjut usia (lansia), yang kemungkinan besar berada dalam kondisi kesehatan yang lemah, dapat menjadi pengalaman rumit dan membingungkan; sekaligus memuaskan namun juga membuat frustrasi. Ilmu kedokteran membantu orang untuk hidup lebih lama, lebih sehat, dan dalam beberapa kasus dapat memperlambat penurunan kognitif yang sering terjadi seiring bertambahnya usia. Cara merawat lansia, makna penuaan, demensia, dan pengasuhan berbeda-beda antara budaya. Kebanyakan orang menjadi tua di rumah sebagai anggota komunitas, yang memiliki manfaat psikososial bagi lansia, dan juga bagi generasi lain dalam keluarga. Pada saat yang sama, merawat orang dengan kondisi kesehatan yang menurun disertai usaha secara fisik dapat menimbulkan ketegangan psikologis; kesedihan karena rasa kehilangan berkelanjutan; dan kemungkinan munculnya kesulitan keuangan bagi pengasuh (caregiver).

(more…)

Read more

Motivasi dan langkah awal melakukan aktivitas fisik

Oleh Keegan Knittle, Universitas Helsinki, Finlandia

Berikut ini adalah kisah yang biasa ditemui di Puskesmas: pasien yang jelas akan mendapat manfaat dari olahraga lebih banyak datang ke klinik. Diskusi dilakukan untuk membahas (rendahnya) aktivitas fisik pasien tersebut. Pada akhirnya, pasien mengatakan bahwa ia tidak termotivasi untuk berubah. Apa yang harus dilakukan oleh dokter? Bagaimana kita bisa memotivasi orang ini, setidaknya, untuk mempertimbangkan mengubah perilakunya menjadi lebih baik? Atau lebih dari itu, bagaimana kita dapat membantunya membangun niat baik untuk menjadi lebih aktif?

(more…)

Read more

Intervensi psikologi positif di tempat kerja

Oleh Alexandra Michel, Institut Federal untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Germany and Annekatrin Hoppe, Universitas Humboldt, Jerman

Karyawan menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat kerja. Maka tidak mengherankan jika mengurangi tuntutan dan meningkatkan sumber daya (mis., otonomi, dukungan sosial, efikasi diri (self-efficacy)) di tempat kerja adalah hal yang penting untuk mempromosikan keseimbangan kehidupan kerja, kesejahteraan, dan kesehatan karyawan. Selama beberapa tahun terakhir, penelitian telah menguji tidak hanya cara untuk mengurangi akibat negatif stres kerja, tetapi juga cara untuk menggunakan sumber daya yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan di tempat kerja. Memperkenalkan intervensi psikologi positif di tempat kerja adalah sebuah cara baru di bidang psikologi kesehatan kerja. Intervensi psikologi positif berfokus pada pembangunan sumber daya dan mencegah hilangnya sumber daya tersebut, dan termasuk juga kegiatan yang bertujuan untuk menumbuhkan perasaan, perilaku, dan pikiran yang positif. Dalam artikel ini, kami menyoroti tiga pendekatan yang dapat membantu karyawan untuk membangun sumber daya mereka dan merawat kesejahteraan di tempat kerja.

(more…)

Read more

Berbicara kepada pasien: Apa yang disampaikan dengan jelas oleh dokter, tetapi tidak dimengerti dengan jelas oleh pasien

Oleh Anne Marie Plass, Pusat Medis Universitas Göttingen, Jerman

Beberapa waktu yang lalu seorang dokter kulit, yang bekerja sebagai spesialis psoriasis (gangguan kulit kronis) di rumah sakit universitas, mengeluh kepada saya tentang banyaknya pasien yang tidak mematuhi terapi, meskipun tujuan telah ditetapkan bersama-sama, dan keputusan telah dibuat secara bersama.

(more…)

Read more

Apa yang terjadi dengan obat-obatan ketika dibawa pulang ke rumah?

Oleh Kerry Chamberlain, Universitas Massey, Auckland, Selandia Baru

Apa yang dilakukan orang-orang dengan obat ketika mereka sampai di rumah? Sangat menarik mengetahui bahwa hanya sedikit peneliti yang berusaha untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun, isu ini sangat penting sebab sebagian besar obat dikonsumsi/ diminum di rumah dan berada di bawah kendali konsumen itu sendiri. Obat yang diresepkan telah diatur oleh peraturan tertentu, tetapi setelah obat tersebut diresepkan dan ditebus oleh pasien, obat-obat itu dianggap akan diminum oleh pasien sesuai dengan petunjuk yang diberikan. Orang juga dapat membeli dan minum berbagai jenis obat yang dijual bebas (misalnya, obat penghilang rasa sakit), obat alternatif (misalnya, terapi homeopati), dan obat lain yang terkait dengan kesehatan namun tidak bisa dikategorikan sebagai obat (misalnya, suplemen makanan, minuman probiotik). Namun, perlu dicatat bahwa akses ke berbagai bentuk pengobatan dapat sangat bervariasi antar negara.

(more…)

Read more

Bagaimana cara menetapkan tujuan agar berhasil?

Oleh Tracy Epton, Universitas Manchester, Inggris Raya

Penentuan tujuan adalah teknik yang populer

Ada banyak teknik yang dapat digunakan untuk mengubah perilaku (93 teknik menurut daftar ini!). Penentuan tujuan (goal setting) adalah teknik yang telah banyak digunakan oleh sebagian besar orang. Penentuan tujuan bahkan juga digunakan oleh badan amal sebagai bagian dari program penurunan berat badan (mis., Alcohol Concern, sebuah badan amal di Inggris yang meminta masyarakat menetapkan tujuan untuk berhenti minum alkohol selama bulan Januari); penentuan tujuan juga bahkan digunakan dalam aplikasi untuk kebugaran. Sebuah ulasan mengamati 384 tes efektivitas teknik penentuan tujuan di berbagai bidang kehidupan untuk melihat apakah penentuan tujuan memberi hasil, tipe tujuan mana yang paling berhasil, dan apakah teknik penentuan tujuan dapat berhasil untuk semua orang.

(more…)

Read more

Pengaturan Diri dari teori hingga praktik: mendukung tujuan pasien untuk berubah

Oleh Stan Maes & Véronique De Gucht, Universitas Leiden, Belanda

Selama beberapa dasawarsa terakhir, peran individu dalam sistem perawatan kesehatan telah berkembang dari ‘kepatuhan terhadap perawatan medis’, menyiratkan ketaatan; menuju ‘manajemen diri’, yang menunjukkan tanggung jawab individu dalam mengendalikan kesehatan atau penyakitnya sendiri. Perkembangan terbaru telah mengarah lebih jauh kepada ide ‘pengaturan diri/ self-regulation‘, sebuah proses sistematis yang melibatkan penetapan tujuan yang terkait dengan kesehatan pribadi dan mengarahkan perilaku untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk mengilustrasikan proses pengaturan diri yang terjadi terus menerus, kami memilih gambar kuno ‘ouroboros’ (yaitu, ular yang memakan ekornya sendiri) untuk menemani catatan kali ini.

(more…)

Read more

Bergerak lebih banyak, dan lebih jarang duduk di tempat kerja: mari kita berdiri untuk mendiskusikan ini

Oleh Stuart Biddle, Universitas Southern Queensland, Australia

Saya menulis blog ini di Hari Valentine! Badan amal promosi kesehatan di Australia, Bluearth, telah membuat beberapa video menarik yang dapat mendorong kamu untuk lebih jarang menggunakan kursi dan  ‘putus hubungan dengan kursi’ (sama seperti putus cinta dari pasangan, lihatlah videonya di sini). Jadi, apa sih masalahnya? Pada dasarnya, dengan perubahan yang terus terjadi ketika bekerja, kita terlalu banyak duduk dan hal ini telah terbukti buruk bagi kesehatan. Misalnya, banyak orang yang menyetir ke kantor, duduk di meja kerjanya hampir sepanjang hari, menyetir pulang ke rumah, dan duduk di depan TV atau komputer ketika malam. Oleh karena itu, tempat kerja sudah seharusnya melakukan perubahan perilaku sehat. Di sisi lain, bersamaan dengan kebiasaan untuk duduk, norma sosial yang kuat, serta desain lingkungan yang justru mendorong kita untuk jarang bergerak, serta dengan kenyamanan dan kesenangan untuk duduk, bagaimana cara kita mengubah semuanya?

(more…)

Read more

Kemauan versus Godaan yang Tidak Sehat – Peringatan – Kemauan Biasanya kalah

Oleh Amanda Rebar, Universitas Central Queensland, Australia

Tidaklah mengherankan jika bukti menunjukkan bahwa orang tidak selalu melakukan yang terbaik untuk kesehatan jangka panjangnya. Sebagai contoh, kebanyakan orang sadar bahwa olahraga itu baik untuk kesehatan fisik dan mental mereka, tetapi relatif sedikit orang yang berolahraga secara teratur. Ketika seseorang berniat untuk mulai berolahraga, hanya sekitar 50% kemungkinan ia akan betul-betul berolahraga. Kemungkinan ini sama dengan peluang ketika melempar koin! Pernahkah Anda bertanya, mengapa orang menikmati perilaku yang tidak sehat, meskipun ia memiliki niat yang positif? Ada sebuah perspektif yang tumbuh dan populer dalam ilmu psikologi kesehatan tentang pengaruh dua buah sistem terhadap perilaku. Model proses ganda ini memberikan sudut pandang baru tentang cara membantu orang untuk menjalani gaya hidup sehat tanpa terus-menerus bergulat antara kemauan yang teguh (willpower) dengan godaan yang tidak sehat (unhealthy temptations).

(more…)

Read more

Teori perencanaan dan intervensi perubahan perilaku berbasis bukti: Pemetaan Intervensi/ Intervention Mapping

Oleh Gerjo Kok, Universitas Maastricht, Belanda; Universitas Texas di Houston, AS

Saat ini ada berbagai kampanye dan intervensi untuk meningkatkan kesehatan dan mengubah perilaku kesehatan masyarakat, tetapi banyak di antaranya tidak “berbasis teori dan bukti”. Terbitan ini akan menjelaskan secara singkat proses yang dilakukan oleh psikolog kesehatan ketika mengembangkan intervensi, dan menyoroti pembeda (dan peningkatan) pendekatan ini dari proses serupa lainnya yang biasa dilakukan.

 

Langkah-langkah

Merencanakan intervensi perubahan perilaku adalah proses yang harus dilakukan selangkah demi selangkah, yang mana seringkali termasuk juga dua langkah maju dan satu langkah mundur. Ini sangat penting, karena setiap langkah lanjutan direncanakan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya, dan kurangnya perhatian pada salah satu langkah dapat menyebabkan kesalahan dan pengambilan keputusan yang keliru pada tahap lainnya. Protokol Pemetaan Intervensi/ Intervention Mapping (IM) mengidentifikasi enam langkah pengembangan intervensi yang membantu tim perencana menyusun intervensi berdasarkan teori dan bukti:

Langkah 1: Penilaian kebutuhan/ Needs assessment

Pada langkah ini, tim perencana, yang terdiri dari semua pihak yang terlibat – termasuk populasi sasaran, pemangku kepentingan, pakar, peneliti, dan pelaksana – menilai masalah yang sedang ditangani. Proses ini termasuk juga mengidentifikasi sumber masalah baik perilaku maupun lingkungan, serta faktor penyebab perilaku dan kondisi lingkungan tersebut. Potongan-potongan identifikasi ini kemudian dapat digambarkan dalam “model logika” masalah – seperti contoh (yang disederhanakan) di bawah ini tentang pencegahan IMS/ HIV remaja – yang memberi gambaran jelas tentang bagaimana berbagai potongan informasi disatukan.

Langkah 2: Mengidentifikasi tujuan

Setelah masalah dan penyebabnya terdefinisikan dengan jelas, hasil dan tujuan program yang spesifik dapat didefinisikan juga. Termasuk menentukan cara untuk mengubah faktor perilaku individu dan lingkungan (pengambil keputusan) demi mengatasi masalah tersebut. Misalnya, dari model logika di atas, untuk mempromosikan penggunaan kondom pada remaja, intervensi harus meningkatkan persepsi risiko/ risk perception serta persepsi akan efektivitas kondom untuk mengurangi persepsi terhadap risiko. Intervensi juga harus memberi pengaruh kepada pasangan secara langsung, jika memungkinkan, perlu dikombinasikan dengan peningkatan keterampilan efikasi diri/ self-efficacy. Selanjutnya, tergantung pada norma sosial yang ada, akses ke layanan perencanaan keluarga dapat tersedia.

Langkah 3: Desain intervensi

Merancang intervensi yang koheren dan dapat dilakukan. Pada tahap ini, tim memilih metode intervensi berbasis teori dan aplikasi praktis untuk mengubah (factor penentu) perilaku dan menghasilkan tema program, komponen, ruang lingkup dan urutan pelaksanaan. IM membedakan metode (atau teknik) perubahan perilaku yang telah terbukti efektif dalam mengubah faktor penentu perilaku dan/ atau lingkungan. Misalnya, persepsi risiko dapat ditingkatkan dengan menggunakan informasi risiko berbasis skenario. Efikasi diri dapat ditingkatkan dengan pemodelan/ meniru dan umpan balik. Advokasi dan lobi dapat memengaruhi pengambilan keputusan di tingkat pengambil kebijakan. Semua metode perubahan ini perlu diterjemahkan ke dalam pelaksanaan yang praktis, dengan mempertimbangkan teori dan parameter berbasis bukti. Sebagai contoh untuk pemodelan: pelajar akan mengidentifikasi dirinya dengan sosok model, pelajar dapat mengamati bahwa sosok model diteguhkan, pelajar memiliki efikasi diri dan keterampilan yang cukup untuk melakukan tindakan, dan sosok model lebih berfungsi sebagai model/pola coping bukan sebagai ahli/ yang utama.

Langkah 4: Produksi intervensi

Ini adalah tahap produksi intervensi yang sebenarnya. Pada tahap ini, struktur program disempurnakan, dan pesan serta materi disusun, diuji coba, dan diproduksi. Untuk contoh di atas, program ‘Long Live Love’ di Belanda telah dikembangkan, diterapkan dan berulang kali telah ditunjuk untuk melakukan promosi seks yang aman kepada remaja di sekolah.

Langkah 5: Rencana pelaksanaan

Menghasilkan rencana pelaksanaan program. Tim mengidentifikasi pengguna yang dapat menggunakan program tersebut, menetapkan tujuan kinerja dan tujuan perubahan, dan merancang pelaksanaan intervensi, dengan sekali lagi menggunakan langkah-langkah IM. Untuk contoh di atas, intervensi tersebut menargetkan remaja berusia 14-15 tahun di sekolah. Penerapan intervensi menargetkan penyebaran ke sekolah-sekolah, adopsi oleh direktur dan guru sekolah, implementasi yang benar oleh para guru, dan akhirnya pelembagaan intervensi oleh direktur dan dewan sekolah.

Langkah 6: Rencana evaluasi efektivitas kegiatan

Mengembangkan intervensi bukanlah akhir dari proses. Sangat penting untuk mengevaluasi apakah intervensi telah mencapai tujuannya (dengan evaluasi efektivitas), dan apakah intervensi telah dilaksanakan sebagaimana mestinya atau tidak (dengan valuasi proses). Kegiatan dalam langkah 5 dan 6 harus dimulai sedini mungkin dalam proses perencanaan. Informasi dari evaluasi ini dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan intervensi, dengan bergerak bolak-balik/ maju mundur di antara langkah-langkah yang ada.

Perspektif luas

Perencanaan intervensi perubahan perilaku harus selalu:

(1) Menggunakan teori perilaku dan bukti sebagai dasar;

(2) Menggunakan pendekatan ekologis untuk menilai dan mengintervensi masalah (kesehatan); dan

(3) Memastikan bahwa anggota di komunitas sasaran dan pemangku kepentingan lain yang terkait juga ikut berpartisipasi.

Satu individu dengan masalah kesehatan adalah bagian dari sebuah sistem, sama juga seperti solusi yang potensial untuk menyelesaikan masalah kesehatan. Oleh karena itu, partisipasi luas dari seluruh lapisan sistem masyakarat dapat membawa keterampilan, pengetahuan, dan keahlian yang lebih besar ke dalam program dan dapat meningkatkan efektivitas penerapan intervensi di dunia nyata serta memberikan cara terbaik untuk mengevaluasi intervensi.

Proses inti

IM juga menyarankan adanya “proses inti”, yaitu tindakan utama untuk menerapkan teori dan bukti: mengajukan pertanyaan, bertukar pikiran, meninjau temuan empiris, mengakses dan menggunakan teori, mengidentifikasi dan mendiskusikan kebutuhan untuk penelitian yang baru, dan merumuskan daftar kegiatan dari jawaban yang ada.

Tantangan utama yang dilatih secara khusus oleh psikolog kesehatan adalah proses mengakses dan menerapkan teori. Mencari literatur sebagai bukti tentang topik yang diangkat, tim perencana program akan menemukan ide-ide teoretis, serta konsep-konsep yang berkaitkan dengan teori. Akhirnya, tim perencana dapat menggunakan teori yang mereka ketahui, misalnya teori perilaku terencana untuk factor penentu perilaku, atau teori pengaturan diri untuk mengubah perilaku.

Rekomendasi praktis

  • Setiap tim perencana yang merancang intervensi perubahan perilaku harus memiliki pakar ilmu perilaku sebagai salah satu anggotanya, misalnya, seorang psikolog kesehatan yang terlatih.
  • Ketika mengembangkan intervensi perubahan perilaku, gunakan teori dan bukti, gunakan pendekatan sistem, dan tingkatkan partisipasi dalam intervensi.
  • Merencanakan intervensi perubahan perilaku adalah proses bertahap, langkah-demi-langkah, ketika setiap tahap dibangun berdasarkan tahap atau langkah sebelumnya. Protokol IM dapat membantu membimbing orang melakukan langkah-langkah tersebut.
  • ‘Proses inti’ dapat membantu psikolog kesehatan dalam menemukan jawaban teoritis atas pertanyaan-pertanyaan selama perencanaan.
  • Hal yang secara khusus relevan untuk perencanaan intervensi adalah: mengidentifikasi faktor penentu perilaku yang dapat berubah dan penting, dengan mempertimbangkan parameter teoretis yang membuat metode perubahan perilaku efektif, dan memastikan bahwa intervensi dilaksanakan sesuai rencana.

[Diterjemahkan oleh Astin Sokang]

Read more