Oleh Kyra Hamilton, Sekolah Psikologi Terapan, Universitas Griffith, Australia dan Amy Peden, Sekolah Kesehatan Masyarakat, Universitas New South Wales, Australia

Tenggelam merupakan salah satu penyebab utama kematian dan cedera yang sebenarnya sebagian besar dapat dicegah, namun seringkali kurang mendapat perhatian. Salah satu mitos yang umum: tenggelam tidak selalu berakibat fatal. Definisi tenggelam telah direvisi untuk memperjelas bahwa tenggelam adalah sebuah proses, bukan hasil akhir. Hasil dari proses tenggelam bisa berupa kematian (tenggelam fatal) atau selamat dengan atau tanpa cedera permanen, seperti cerebral palsy dan gangguan neurologis lainnya akibat kekurangan oksigen ke otak (tenggelam non-fatal). Istilah seperti “tenggelam kering” (dry drowning), “tenggelam sekunder” (secondary drowning), atau “nyaris tenggelam” (near-drowning) sering digunakan di media, tetapi istilah-istilah ini sudah usang dan tidak akurat secara medis—jadi sudah saatnya untuk berhenti menggunakannya.

Apa yang Mendorong Risiko dan Apa yang Efektif untuk Mencegah Tenggelam?

Selain usia, jenis kelamin, dan lokasi, terdapat sejumlah faktor lain yang meningkatkan risiko tenggelam. Ini mencakup keterampilan dan perilaku individu—seperti kemampuan berenang, masuk ke area banjir, konsumsi alkoholserta kondisi medis yang mendasari yang dapat meningkatkan kerentanan.

Faktor lain berkaitan dengan karakteristik perairan itu sendiri: apakah anak-anak diawasi dan ada penghalang untuk mencegah akses yang tidak disengaja; penilaian terhadap bahaya yang ada di perairan alami dan keyakinan diri dalam menghadapinya; pemahaman tentang arus balik, arus deras, dan bahaya bawah air seperti akar pohon atau benda tersembunyi di sungai; serta apakah seseorang memilih untuk berenang di tempat yang diawasi seperti kolam umum dengan penjaga atau pantai yang dipatroli.

Masih banyak faktor lain yang mempengaruhi risiko tenggelam. Namun untungnya, terdapat strategi pencegahan berbasis bukti yang terbukti efektif. Misalnya, di Australia, undang-undang tentang pagar kolam renang, yang dipadukan dengan edukasi dan penegakan hukum, telah mengurangi angka kematian anak akibat tenggelam di kolam hingga lebih dari 50%. Demikian pula, program pelatihan berenang untuk bertahan hidup bagi anak-anak usia sekolah di Bangladesh terbukti hemat biaya dan secara drastis menurunkan angka kematian anak akibat tenggelam.

Undang-undang yang mewajibkan praktik keselamatan di kapal dan perahu—seperti kewajiban mengenakan pelampung juga membantu mengurangi resiko tenggelam saat bepergian melalui air. Pada saat yang sama, riset yang berkelanjutan tentang tenggelam, termasuk pemeliharaan dan analisis data registrasi insiden tenggelam, membantu kita memahami masalah ini lebih dalam dan menemukan cara pencegahan yang lebih baik.

Strategi tingkat sistem (kerangka “s-frame”), seperti undang-undang dan regulasi yang disebutkan di atas, dapat membentuk perilaku yang lebih aman di tingkat populasi. Namun, ketika strategi ini digabungkan dengan intervensi tingkat individu (kerangka “i-frame”)—seperti edukasi, penguatan sosial, dan pelatihan keterampilan—dampaknya terhadap pencegahan tenggelam dapat menjadi jauh lebih besar.

Penelitian menunjukkan bahwa cara orang berpikir dan merasakan sangat memengaruhi tindakan kesehatan mereka, termasuk dalam menjaga keselamatan di sekitar air. Misalnya, pengalaman masa lalu; keyakinan terhadap manfaat dan kerugian dari perilaku aman serta rasa percaya diri untuk bertindak; perencanaan; persepsi risiko; tekanan sosial; dan peran yang seseorang lihat pada dirinya, semua memengaruhi apakah seseorang akan mengambil langkah pencegahan terhadap tenggelam.

Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mengurangi Risiko Tenggelam di Masa Depan?

Secara global, angka kematian akibat tenggelam telah menurun sebesar 38% sejak tahun 2000, ini adalah sebuah pencapaian besar. Namun, kemajuan ini belum merata di semua tempat. Beberapa wilayah, terutama yang memiliki sumber daya terbatas, masih menghadapi tantangan besar, termasuk meningkatnya risiko akibat perubahan iklim dan migrasi melalui laut.

Untuk terus maju, kita membutuhkan solusi praktis yang menggabungkan perubahan di tingkat individu (seperti mengubah sikap terhadap keselamatan di air) dan perubahan sistem yang lebih luas (seperti perbaikan infrastruktur dan kebijakan yang lebih baik). Upaya ini dapat melibatkan berbagai pemangku kepentingan—seperti pemerintah, komunitas, LSM, dan individu—yang semuanya dapat memberikan kontribusi berarti dalam mencegah tenggelam, baik di tingkat individu maupun sistem.

Rekomendasi Praktis

  • Mendorong penerapan undang-undang, edukasi, dan penegakan hukum yang lebih kuat untuk mencegah tenggelam. Ini mencakup langkah-langkah seperti peraturan pagar kolam renang, standar keselamatan dan label untuk kolam portabel, serta zona bebas alkohol di lokasi berisiko tinggi seperti pantai dan sungai. Ini juga berarti mendorong agar keselamatan di air menjadi bagian dari sistem yang lebih besar, seperti pelajaran berenang di sekolah dan edukasi keselamatan banjir dalam skema surat izin mengemudi bertahap.
  • Meningkatkan keselamatan air dengan memperhatikan cara orang berpikir dan merasakannya. Ini termasuk mendorong sikap positif, seperti memahami manfaat menggunakan pelampung atau mengawasi anak-anak di sekitar air. Juga penting untuk membantu orang merasa percaya diri dalam menjaga keselamatan, seperti menghindari mengemudi melalui banjir, mengenakan pelampung saat naik perahu, dan membatasi konsumsi alkohol di sekitar air.
  • Merencanakan kegiatan di air sejak awal. Artinya, mengajak orang untuk memikirkan langkah-langkah keselamatan terlebih dahulu—seperti membawa pelampung atau memilih rute pulang yang aman saat banjir. Persiapan yang matang membantu mencegah tenggelam dan menjaga keselamatan semua orang.
  • Menjadikan keselamatan air sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari—seperti mengenakan pelampung, mengawasi anak-anak dengan cermat, dan menghindari alkohol di sekitar air. Ketika perilaku ini menjadi kebiasaan dan didukung oleh teman serta keluarga, lebih banyak orang akan mengikutinya, sehingga semua orang menjadi lebih aman.
  • Peringati Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia pada 25 Juli. Luangkan waktu untuk mengenang nyawa yang hilang akibat tenggelam yang dapat dicegah dan renungkan bagaimana kita bisa membuat aktivitas air menjadi lebih aman. Berkomitmenlah untuk mendorong seseorang belajar berenang, ikut les berenang sendiri, menyebarkan kesadaran tentang pencegahan tenggelam, atau sekadar menikmati air sambil menunjukkan perilaku aman kepada orang lain.

[Diterjemahkan oleh: Caroline & Astin Sokang]

Subscribe

Sign up today to get notified whenever a new blog post is published!

And don’t worry, we hate spam too! You can unsubscribe at anytime.

Share

Shares
Kyra Hamilton
+ posts
Amy Peden