{"id":1666,"date":"2020-04-10T17:20:39","date_gmt":"2020-04-10T17:20:39","guid":{"rendered":"http:\/\/practicalhealthpsychology.com\/?p=1666"},"modified":"2025-11-04T14:19:35","modified_gmt":"2025-11-04T14:19:35","slug":"insights-from-behavioural-science-for-the-covid-19-pandemic","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/2020\/04\/insights-from-behavioural-science-for-the-covid-19-pandemic\/","title":{"rendered":"Sudut pandang ilmu perilaku terhadap pandemi COVID-19 (virus corona)"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh Shane Timmons, Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial, Irlandia<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah di seluruh dunia mengerahkan segala upaya untuk mengendalikan penyebaran virus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">corona<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> terbaru COVID-19, tetapi perlu dicatat bahwa <\/span><a href=\"https:\/\/www.thelancet.com\/journals\/lancet\/article\/PIIS0140-6736(20)30567-5\/fulltext\"><span style=\"font-weight: 400;\">perilaku masyarakat menjadi kunci<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> keberhasilan usaha tersebut. Kami &#8211; <\/span><a href=\"https:\/\/www.esri.ie\/bru\"><span style=\"font-weight: 400;\">Unit Penelitian Perilaku<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial di Dublin &#8211; bekerja sama dengan Departemen Kesehatan Irlandia untuk memberi informasi bagaimana mereka seharusnya menanggapi pandemi COVID-19 ini. Sebagai bagian dari kerja sama ini, kami <\/span><a href=\"https:\/\/journal-bpa.org\/index.php\/jbpa\/article\/view\/147\"><span style=\"font-weight: 400;\">mempelajari lebih dari 100 makalah ilmiah<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dan\u00a0 <\/span><a href=\"https:\/\/www.esri.ie\/publications\/motivating-social-distancing-during-the-covid-19-pandemic-an-online-experiment\"><span style=\"font-weight: 400;\">menguji berbagai pendekatan untuk menemukan cara terbaik dalam berkomunikasi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan masyarakat umum, serta menjadi masukan penting bagi praktisi psikologi kesehatan. Dalam ulasan yang kami susun, kami berfokus pada temuan yang relevan dengan tiga hal mendasar dalam pesan kesehatan masyarakat di beberapa negara, yaitu: kebersihan tangan, perilaku menyentuh wajah dan isolasi diri. Kami juga membahas temuan yang lebih luas, yaitu cara meningkatkan perilaku sehat yang berguna dan cara mengomunikasikannya secara efektif kepada masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p><b>Kebersihan tangan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbagai cara menjaga kebersihan tangan telah banyak diteliti dalam seting layanan kesehatan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bukti kuat bahwa <\/span><a href=\"https:\/\/linkinghub.elsevier.com\/retrieve\/pii\/S1473309911702833\"><span style=\"font-weight: 400;\">pengetahuan dan kesadaran masyarakat saja tidak cukup<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, tetapi perubahan sederhana di dalam lingkungan bisa sangat efektif mengubah perilaku menjaga kebersihan tangan. Misalnya, untuk menarik perhatian masyarakat dalam menggunakan cairan pembersih tangan berbasis alkohol, pembersih tangan diletakkan di tempat yang sering dilewati dan menggunakan tanda yang berwarna cerah, <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1186\/1748-5908-7-92\"><span style=\"font-weight: 400;\">penggunaan cairan pembersih tangan pun meningkat<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> tajam, jauh lebih baik daripada sekedar <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1086\/671729\"><span style=\"font-weight: 400;\">menambah jumlah<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> kotak\/ tempat cairan. Hal ini menunjukkan harapan bahwa manfaat penggunaan cairan pembersih tangan dapat diperoleh sebab sudah menjadi aturan yang diharapkan untuk dilakukan oleh masyarakat. Pertanyaan yang langsung menyasar tetapi tetap sopan &#8211; misalnya, bertanya &#8220;apakah Anda sudah menggunakan cairan pembersih tangan?&#8221; ketika pasien atau pengunjung datang &#8211; adalah cara sederhana untuk mengomunikasikan norma\/ aturan ini. Sangat penting untuk membangun kebiasaan ini mulai dari sekarang dan mempertahankannya meskipun aturan pembatasan sosial berskala besar mulai dikurangi.<\/span><\/p>\n<p><b>Menyentuh wajah<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan penelitian mengenai kebersihan tangan, kami tidak menemukan pengujian intervensi untuk mengurangi perilaku menyentuh wajah. Meningkatkan kesadaran masyarakat tidak dapat efektif: membuat orang menyadari perilakunya menyentuh wajah justru <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1037\/h0036059\"><span style=\"font-weight: 400;\">meningkatkan jumlah<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> orang melakukannya. Dengan tidak adanya intervensi yang mapan, praktisi hanya dapat mengandalkan model perubahan perilaku yang lebih umum dilakukan, seperti <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1186\/1748-5908-6-42\"><span style=\"font-weight: 400;\">Roda Perubahan Perilaku\/<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Behaviour Change Wheel<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><a href=\"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/2018\/03\/planning-theory-and-evidence-based-behavior-change-interventions-intervention-mapping\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pemetaan Intervensi\/<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Intervention Mapping<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">,<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> atau <\/span><a href=\"https:\/\/www.bi.team\/publications\/east-four-simple-ways-to-apply-behavioural-insights\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kerangka Kerja EAST\/<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">EAST Framework<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Kami dan <\/span><a href=\"https:\/\/www.bi.team\/blogs\/how-to-stop-touching-our-faces-in-the-wake-of-the-coronavirus\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">tim lainnya<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> memberi rekomendasi untuk mengganti perilaku menyentuh wajah dengan alternatif lain (mis., menggunakan lengan atau tisu), daripada hanya mencegah perilaku tersebut.<\/span><\/p>\n<p><b>Isolasi<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Isolasi diri oleh seseorang yang memiliki gejala atau yang melakukan kontak jarak dekat dengan orang yang sudah terinfeksi virus korona <\/span><a href=\"https:\/\/bfi.uchicago.edu\/working-paper\/2020-26\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">dapat menyelamatkan nyawa orang lain<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, tetapi juga dapat memberi efek psikologis yang negatif. Isolasi sosial dan perasaan kesepian memiliki pengaruh terhadap kesejahteraan yang sama dengan <\/span><a href=\"https:\/\/journals.sagepub.com\/doi\/10.1177\/1745691614568352\"><span style=\"font-weight: 400;\">faktor risiko<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> lainnya<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti merokok. Sebuah <\/span><a href=\"https:\/\/www.thelancet.com\/journals\/lancet\/article\/PIIS0140-6736(20)30460-8\/fulltext\"><span style=\"font-weight: 400;\">tinjauan terhadap 24 penelitian<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> mengenai orang-orang yang dikarantina selama wabah penyakit menular sebelum virus korona ini menyoroti risiko yang tetap ada meski periode isolasi telah berakhir, termasuk meningkatnya depresi hingga tiga tahun kemudian. Petugas kesehatan justru memiliki risiko lebih tinggi, karena efek negatif tersebut dapat diperparah oleh rasa khawatir karena merasa sudah gagal mendukung rekan kerja atau pasien selama wabah terjadi. Pihak berwenang harus menyediakan layanan kesehatan mental tambahan yang dapat diakses dari jarak jauh, terutama oleh kelompok yang rentan. Merencanakan proses isolasi diri dapat membantu seseorang menjalani masa tersebut. <\/span><a href=\"https:\/\/www.who.int\/docs\/default-source\/coronaviruse\/mental-health-considerations.pdf\"><span style=\"font-weight: 400;\">Organisasi Kesehatan Dunia\/<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">World Health Organisations (WHO)<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> and layanan kesehatan nasional di berbagai negara, seperti <\/span><a href=\"https:\/\/www.nhs.uk\/oneyou\/every-mind-matters\/coronavirus-covid-19-staying-at-home-tips\"><span style=\"font-weight: 400;\">NHS<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> di Inggris<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, memiliki rekomendasi khusus untuk membantu mengatasinya, termasuk tetap menjaga hubungan dengan orang lain melalui telepon atau kegiatan daring\/<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lainnya, berolahraga jika merasa cukup sehat, dan mempertahankan <\/span><a href=\"https:\/\/linkinghub.elsevier.com\/retrieve\/pii\/S014067362030547X\"><span style=\"font-weight: 400;\">rutinitas yang biasa dilakukan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><b>Memotivasi Perilaku Sehat yang bermanfaat<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akibat jika terinfeksi COVID-19 tidak sama untuk semua orang. Orang yang berusia tua dan penderita penyakit kronis atau penyakit bawaan memiliki risiko yang jauh lebih besar daripada orang yang berusia muda dan sehat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun kesehatan orang-orang yang berisiko tinggi tidak hanya bergantung pada perilaku mereka sendiri saja tetapi juga pada <\/span><a href=\"https:\/\/blogs.bmj.com\/bmj\/2020\/03\/04\/abraar-karan-control-covid19-outbreak-young-healthy-patients-should-avoid-emergency-room\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">perilaku orang lain<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Ada strategi khusus yang dapat mendorong kerja sama dari masyarakat ketika sebuah tindakan yang menguntungkan individu tetapi tidak selalu menguntungkan orang lain atau kelompok yang lebih besar. <\/span><a href=\"https:\/\/link.springer.com\/article\/10.1023%2FA%3A1026277420119\"><span style=\"font-weight: 400;\">Komunikasi yang efektif<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah kunci yang sangat penting. Menggalakkan <\/span><a href=\"https:\/\/link.springer.com\/article\/10.1007%2Fs10683-010-9257-1\"><span style=\"font-weight: 400;\">identitas kelompok<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan kalimat seperti &#8220;bersama kita bisa&#8221; lebih mampu menggerakkan masyarakat, seperti juga <\/span><a href=\"https:\/\/www.aeaweb.org\/articles?id=10.1257\/000282803321455359\"><span style=\"font-weight: 400;\">penolakan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang sopan terhadap perilaku yang tidak membantu (mis., pembelian dan belanja karena panik). Penelitian juga menunjukkan bahwa menyoroti <\/span><a href=\"https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/337402308_Imagined_alternatives_to_episodic_memories_of_morally_good_acts?_sg=v1WWfTL74cu7DNo-SJYlxz7wbxBmtGAsUcToMkJhs5Cst_T_tPUfgRj9GcTr9sP_P8x6it5NJWx7mefj7R-kqLm4aS2FfTBpc7DNpfv9.N_9ykCLpEXe8jpihhygegO_7Rjkj_uY3Z9HI3An-DGKUiqm4v5_StVcZpHlM5PnXvUj04Y6sCbc1TnfeZkutcA\"><span style=\"font-weight: 400;\">pengorbanan yang dilakukan orang lain<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> akan mendorong tindakan memberi bantuan. Dan kumpulan bukti yang secara langsung menguji komunikasi selama COVID-19 menunjukkan bahwa menyoroti <\/span><a href=\"https:\/\/www.esri.ie\/system\/files\/publications\/wp658.pdf\"><span style=\"font-weight: 400;\">risiko menularkan virus kepada orang lain<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> and <\/span><a href=\"https:\/\/psyarxiv.com\/discover?q=yuq7x\"><span style=\"font-weight: 400;\">menunjukkan perilaku prososial<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk menghindari \u201cpenyebaran\u201d virus cenderung lebih efektif daripada sekadar memberikan saran atau pesan mengenai cara menghindari \u201cterpapar\u201d virus.<\/span><\/p>\n<p><b>Mengomunikasikan Informasi Krisis<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bidang psikologi komunikasi risiko\/<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">risk communication<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menyoroti <\/span><a href=\"https:\/\/annals.org\/aim\/article-abstract\/1897104\/evidence-based-risk-communication-systematic-review?doi=10.7326%2fM14-0295\"><span style=\"font-weight: 400;\">prinsip-prinsip tambahan<\/span><\/a> <span style=\"font-weight: 400;\">yang mungkin akan berguna bagi praktisi yang ingin berkomunikasi dengan pasien dan klien tentang pandemi COVID-19. Kecepatan, kejujuran, dan kredibilitas adalah hal yang penting. <\/span><a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/abs\/pii\/S0363811118303382?via%3Dihub\"><span style=\"font-weight: 400;\">Secara umum<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, praktisi dapat mengakui rasa tidak pasti dan empati yang mereka rasakan terkait dengan kesulitan yang dihadapi semua orang selama situasi krisis, sambil menekankan pentingnya tindakan individu untuk <\/span><a href=\"https:\/\/pure.au.dk\/portal\/files\/181464339\/The_unpleasant_truth_is_the_best_protection_against_coronavirus_Michael_Bang_Petersen.pdf\"><span style=\"font-weight: 400;\">menyeimbangkan kecemasan yang dirasakan dengan optimis<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">me<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memerangi penyebaran COVID-19 membutuhkan kontribusi dari berbagai bidang ilmu. Teori dan metode dari <\/span><a href=\"https:\/\/blogs.bmj.com\/bmj\/2020\/03\/03\/behavioural-strategies-for-reducing-covid-19-transmission-in-the-general-population\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">ilmu perilaku<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat memainkan perannya. Pengujian awal yang dilakukan secara cepat terhadap rekomendasi dari ilmu perilaku disertai dengan pengujian yang berkualitas tinggi akan menjadi penting untuk memaksimalkan manfaat dari rekomendasi tersebut.<\/span><\/p>\n<p><b>Rekomendasi Praktis<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Meningkatkan perilaku menjaga kebersihan tangan dengan menggabungkan kampanye kesadaran masyarakat dengan meletakkan cairan pembersih tangan secara menonjol dan bertanya secara sopan dapat memberi sinyal kepada pasien atau klien bahwa penggunaan cairan pembersih tangan merupakan perilaku yang diharapkan.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mencegah perilaku menyentuh wajah saja tidaklah cukup &#8211; ubahlah lingkungan fisik dan sosial untuk mengubah perilaku masyarakat, misalnya dengan menciptakan norma baru sebagai perilaku pengganti seperti menyentuh wajah dengan lengan atau selalu menyediakan tisu.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Membantu orang lain untuk terlibat dalam jejaring sosial jarak jauh dan mempertahankan rutinitas harian cenderung membantu orang untuk mengatasi efek psikologis yang negatif dari isolasi. Namun memberikan dukungan kesehatan mental tambahan tetaplah diperlukan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menekankan sifat kebersamaan dalam menghadapi masalah dan menyoroti risiko menularkan virus kepada kelompok yang paling rentan dapat digunakan untuk mempromosikan perilaku yang membantu &#8211; tetapi jangan biarkan perilaku tersebut menjadi tidak terkendali.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><b><span style=\"font-weight: 400;\">Menyeimbangkan kecemasan dengan optimisme bahwa perilaku individu akan efektif dalam mengatasi penyebaran virus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">corona<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> &#8211; COVID-19.<\/span>\u00a0<\/b><\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>[Translated by \u2013 Astin Sokang]<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>By Shane Timmons, Economic and Social Research Institute, Ireland Governments worldwide have mobilised to try to control the spread of the novel coronavirus, but the behaviour of individuals will be vital to their success. We \u2013 the Behavioural Research Unit [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1670,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[28],"tags":[],"class_list":["post-1666","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-communication"],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"3.0.2","language":"id","enabled_languages":["en","id","my","bg","zh","hr","cz","da","de","es","fr","gr","he","it","ja","kr","lv","lt","hu","nl","no","pl","pt","ro","ru","sk","fi","sv","tr","uk"],"languages":{"en":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"my":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"bg":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"zh":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"hr":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"cz":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"da":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"de":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"es":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"fr":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"gr":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"he":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"it":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"ja":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"kr":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"lv":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"lt":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"hu":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"nl":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"no":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"pl":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"pt":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"ro":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"ru":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"sk":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"fi":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"sv":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"tr":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"uk":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1666","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1666"}],"version-history":[{"count":16,"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1666\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4593,"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1666\/revisions\/4593"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1670"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1666"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1666"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1666"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}