{"id":5018,"date":"2026-06-21T23:56:40","date_gmt":"2026-06-21T23:56:40","guid":{"rendered":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/?post_type=module&#038;p=5018"},"modified":"2026-09-10T09:24:19","modified_gmt":"2026-09-10T09:24:19","slug":"module-4","status":"publish","type":"module","link":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/module\/module-4\/","title":{"rendered":"Hidup Setelah COVID-19: Mengelola Dampak Kesehatan Jangka Panjang"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh Dominika Kwasnicka, University of Melbourne, Australia dan Rizmina Rilwan, Peneliti Independen dari Sri Lanka<\/strong><\/p>\n<p><b>COVID-19 setelah fase akut: apa yang masih terus dipelajari?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun perhatian global selama ini banyak terfokus pada fase akut COVID-19, dampak jangka panjangnya semakin mendapat perhatian dalam praktik klinis.\u00a0 <\/span><a href=\"https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/post-covid-19-condition-(long-covid)\"><span style=\"font-weight: 400;\">WHO mengidentifikasi <\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">kelompok populasi tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi pasca-COVID-19 setelah infeksi SARS-CoV-2. Kelompok tersebut meliputi perempuan, lansia, perokok, individu dengan kelebihan berat badan atau obesitas, mereka yang memiliki penyakit kronis sebelumnya, serta penyandang disabilitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak individu masih mengalami gejala selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah infeksi, sementara sebagian lainnya mengalami kondisi kronis baru atau perburukan penyakit kronis yang telah ada sebelumnya. Memahami dampak jangka panjang ini sangat penting untuk memberikan perawatan yang efektif dan berpusat pada pasien, terutama bagi lansia dan individu yang telah memiliki risiko penyakit kronis. Bagi tenaga kesehatan, kondisi ini menuntut pergeseran fokus dari penanganan fase akut menuju pemantauan berkelanjutan, upaya pencegahan, dan perencanaan perawatan yang terkoordinasi.<\/span><\/p>\n<p><b>Apa itu Long COVID? Memahami kondisi yang kompleks dan terus berkembang<\/b><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/s41467-025-59012-w\"><span style=\"font-weight: 400;\">Long COVID<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">,atau kondisi pasca-COVID-19, adalah kondisi ketika gejala COVID-19 menetap atau gejala baru muncul dalam waktu tiga bulan setelah infeksi awal SARS-CoV-2. Gejala tersebut berlangsung setidaknya selama dua bulan dan tidak dapat dijelaskan oleh diagnosis lain. Definisi ini mengacu pada WHO, meskipun terdapat sedikit perbedaan definisi antarorganisasi. Gejala yang umum dilaporkan meliputi kelelahan, sesak napas, kesulitan berpikir atau berkonsentrasi (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">brain fog<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), nyeri dada, dan gangguan tidur. Gejala-gejala ini dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu dan sering kali melibatkan lebih dari satu sistem organ. Oleh karena itu, tenaga kesehatan perlu memahami bahwa gejala Long COVID sering kali tidak spesifik dan dapat memerlukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai sistem tubuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkiraan angka kejadian Long COVID bervariasi, namun kondisi ini tampaknya lebih sering terjadi <\/span><a href=\"https:\/\/journals.plos.org\/Plosmedicine\/article?id=10.1371\/journal.pmed.1004194\"><span style=\"font-weight: 400;\">pada lansia<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, individu dengan <\/span><a href=\"https:\/\/academic.oup.com\/ofid\/article\/10\/7\/ofad233\/7150886?login=false&amp;guestAccessKey=\"><span style=\"font-weight: 400;\">penyakit penyerta<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, dan mereka yang<\/span><a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/s41467-023-43661-w\"><span style=\"font-weight: 400;\"> mengalami COVID-19 berat<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Meski demikian, Long COVID juga dapat terjadi pada individu yang sebelumnya hanya mengalami gejala ringan, bahkan tanpa gejala sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa Long COVID merupakan kondisi yang luas dan sulit diprediksi.<\/span><\/p>\n<p><b>Bagaimana COVID-19 mengubah risiko penyakit kronis\u00a0\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukti ilmiah yang terus berkembang menunjukkan bahwa COVID-19 dapat berkaitan dengan munculnya <\/span><a href=\"https:\/\/pmc.ncbi.nlm.nih.gov\/articles\/PMC8220960\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">penyakit kronis<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> baru maupun perburukan penyakit kronis yang sudah ada. Sebagai contoh, beberapa pasien mengalami <\/span><a href=\"https:\/\/academic.oup.com\/jcem\/article\/108\/11\/e1164\/7174006?login=false&amp;guestAccessKey=\"><span style=\"font-weight: 400;\">diabetes yang baru terdiagnosis <\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">setelah infeksi, kemungkinan akibat dampak virus terhadap fungsi pankreas atau perubahan metabolisme yang dipicu oleh proses inflamasi. Demikian pula, <\/span><a href=\"https:\/\/link.springer.com\/article\/10.1007\/s10557-023-07465-w\"><span style=\"font-weight: 400;\">komplikasi kardiovaskular<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti kerusakan otot jantung, gangguan irama jantung, dan peningkatan risiko gagal jantung, telah dilaporkan bahkan setelah pasien melewati fase akut penyakit. Oleh karena itu, pemantauan faktor risiko kardiometabolik secara berkelanjutan merupakan bagian penting dari perawatan pasca-COVID.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa COVID-19 tidak hanya perlu dipandang sebagai infeksi saluran pernapasan akut, tetapi juga sebagai kondisi yang dapat menimbulkan dampak kesehatan yang sistemik dan berlangsung dalam jangka panjang. Pada pasien yang telah hidup dengan penyakit kronis, COVID-19 dapat mempercepat progresivitas penyakit atau mempersulit pengelolaan kondisi yang sudah ada sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><b>Lansia setelah COVID-19: Menjalani pemulihan, penurunan fungsi, dan ketahanan diri<\/b><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/pmc.ncbi.nlm.nih.gov\/articles\/PMC11377967\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Lansia<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan kelompok yang mengalami dampak mengalami dampak paling besar, baik selama fase akut maupun setelah infeksi COVID-19. <\/span><a href=\"https:\/\/www.thelancet.com\/journals\/lanhl\/article\/PIIS2666-7568(22)00245-8\/fulltext\"><span style=\"font-weight: 400;\">Individu berusia 65 tahun<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> ke atas memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala dan komplikasi Long COVID dibandingkan kelompok usia yang lebih muda. Selain itu, COVID-19 dapat memicu atau memperburuk kondisi kronis yang sudah ada, termasuk penyakit kardiovaskular, penyakit pernapasan, dan gangguan neurodegeneratif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain komplikasi medis, banyak lansia mengalami penurunan fungsi fisik, seperti berkurangnya mobilitas, kelemahan otot, dan hilangnya kemandirian dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. <\/span><a href=\"https:\/\/www.cambridge.org\/core\/journals\/international-psychogeriatrics\/article\/prevalence-of-loneliness-and-social-isolation-among-older-adults-during-the-covid19-pandemic-a-systematic-review-and-metaanalysis\/8B1F4AE61E9CD44028B7EAFA1313C876\"><span style=\"font-weight: 400;\">Isolasi sosial<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> selama dan setelah sakit juga dapat berkontribusi terhadap penurunan fungsi kognitif serta gangguan kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan. Akibatnya, k<\/span><a href=\"https:\/\/link.springer.com\/article\/10.1186\/s12877-023-03757-w\"><span style=\"font-weight: 400;\">ualitas hidup<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> seringkali terdampak secara signifikan. Bahkan setelah tampak pulih dari infeksi akut, banyak pasien lansia masih kesulitan kembali ke tingkat fungsi mereka sebelum sakit dan memerlukan dukungan tambahan dari tenaga kesehatan, keluarga, pengasuh, maupun layanan masyarakat. Oleh karena itu, evaluasi rutin terhadap status fungsional, kesehatan mental, dan dukungan sosial menjadi komponen penting dalam perawatan kelompok ini.<\/span><\/p>\n<p><b>Mengapa Long COVID memerlukan pendekatan perawatan jangka panjang berbasis tim\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengingat luasnya spektrum komplikasi yang dapat muncul setelah COVID-19, pendekatan multidisiplin dalam perawatan pasien sangat diperlukan. Pendekatan ini dapat melibatkan dokter umum, dokter spesialis seperti ahli jantung atau ahli endokrin, fisioterapis, psikolog, dan pekerja sosial. Tindak lanjut secara berkala memungkinkan identifikasi dini terhadap kondisi baru maupun perburukan kondisi yang telah ada, sehingga intervensi dapat diberikan lebih cepat. Jalur rujukan yang jelas serta komunikasi yang baik antar layanan kesehatan juga dapat meningkatkan kesinambungan perawatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang tidak kalah penting, perawatan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Pasien dengan Long COVID sering mengalami kombinasi gejala yang beragam dan saling tumpang tindih, sementara proses pemulihan dapat sangat berbeda antara satu pasien dengan pasien lainnya. Memasukkan pertimbangan terkait Long COVID ke dalam rencana pengelolaan penyakit kronis yang sudah ada dapat membantu meningkatkan luaran kesehatan dan mengurangi risiko komplikasi lebih lanjut. Pengambilan keputusan bersama antara pasien dan tenaga kesehatan, disertai penetapan tujuan perawatan yang realistis, dapat membantu memastikan bahwa layanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, prioritas, dan kemampuan pasien.<\/span><\/p>\n<p><b>Melangkah ke depan: Meningkatkan kesadaran, kepercayaan diri, dan kesinambungan praktik<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam mengenali dan menangani dampak jangka panjang COVID-19. Meningkatkan kesadaran pasien, mengakui dan memvalidasi gejala yang mereka alami, serta memberikan informasi yang jelas dapat membantu mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan keterlibatan pasien dalam perawatan. Selain itu, meningkatkan kepercayaan diri tenaga kesehatan dalam mendiskusikan Long COVID bersama pasien juga merupakan bagian penting dari praktik klinis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seiring berkembangnya penelitian, tenaga kesehatan perlu terus memperbarui pengetahuan dan menyesuaikan praktik dengan bukti ilmiah terbaru. Beban jangka panjang COVID-19 kemungkinan akan tetap menjadi bagian penting dari pengelolaan penyakit kronis dalam beberapa tahun mendatang. Oleh karena itu, pendidikan profesional berkelanjutan, termasuk melalui pelatihan seperti ini, serta penerapan bukti ilmiah terbaru dalam praktik sehari-hari akan sangat penting untuk mengoptimalkan hasil kesehatan pasien.<\/span><\/p>\n<p><b>Rekomendasi Praktis<\/b><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Tanyakan secara aktif terkait gejala yang menetap<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Saat melakukan konsultasi rutin, tanyakan kepada pasien mengenai gejala yang masih dirasakan setelah COVID-19, meskipun infeksi awalnya tergolong ringan. Kelelahan, sesak napas, dan perubahan fungsi kognitif sering kali tidak disampaikan secara spontan oleh pasien. Pertanyaan yang terarah dapat membantu mengidentifikasi masalah sejak dini, melakukan penilaian yang tepat waktu, dan memberikan rujukan bila diperlukan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Lakukan skrining terhadap penyakit kronis yang baru muncul atau memburuk<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Pantau kemungkinan munculnya diabetes, komplikasi kardiovaskular, atau perburukan kondisi kronis yang telah ada sebelumnya. Pemantauan ini dapat mencakup pemeriksaan kadar glukosa darah, tekanan darah, serta tanda dan gejala yang mengarah pada gangguan jantung. Mengintegrasikan skrining tersebut ke dalam tindak lanjut pasca-COVID dapat membantu mendeteksi komplikasi secara lebih dini.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Dukung pemulihan fungsi pada lansia<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Dorong pasien untuk kembali beraktivitas fisik secara bertahap sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Program rehabilitasi dan perencanaan aktivitas perlu disesuaikan secara individual karena sebagian pasien dapat mengalami perburukan gejala setelah aktivitas yang berlebihan. Rujukan ke layanan fisioterapi atau rehabilitasi dapat membantu meningkatkan mobilitas, kekuatan fisik, dan kemandirian. Selain itu, pertimbangkan pula skrining fungsi kognitif dan kesehatan mental, terutama pada pasien yang mengalami isolasi sosial dalam waktu yang lama.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Terapkan pendekatan multidisiplin<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Koordinasikan perawatan lintas profesi apabila memungkinkan. Pasien dengan gejala yang kompleks atau menetap dapat memperoleh manfaat dari kolaborasi antara layanan medis, kesehatan pendukung, dan layanan psikososial. Komunikasi yang baik antar tenaga kesehatan sangat penting untuk menjaga kesinambungan perawatan dan mencegah perawatan yang terfragmentasi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Berikan dukungan dan bantu pasien membangun harapan yang realistis<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Pemulihan dari Long COVID dapat berlangsung lambat dan berbeda pada setiap individu. Dengarkan kekhawatiran pasien, validasi pengalaman yang mereka alami, dan berikan informasi yang jelas mengenai apa yang mungkin terjadi selama proses pemulihan. Dukungan terhadap strategi pengelolaan mandiri serta tindak lanjut secara berkala dapat membantu pasien merasa lebih percaya diri dan memiliki kendali yang lebih baik terhadap proses pemulihannya.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diterjemahkan oleh Astin Sokang dan Triana Kesuma Dewi<\/span><\/p>\n","protected":false},"featured_media":5171,"template":"","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false},"class_list":["post-5018","module","type-module","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"3.0.5","language":"id","enabled_languages":["en","id","my","bg","zh","hr","cz","da","de","es","fr","gr","he","it","ja","kr","lv","lt","hu","nl","no","pl","pt","ro","ru","sk","sr","fi","et","sv","tr","uk","hi","sw","ta"],"languages":{"en":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"my":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"bg":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"zh":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"hr":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"cz":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"da":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"de":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"es":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"fr":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"gr":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"he":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"it":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"ja":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"kr":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"lv":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"lt":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"hu":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"nl":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"no":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"pl":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"pt":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"ro":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"ru":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"sk":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"sr":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"fi":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"et":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"sv":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"tr":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"uk":{"title":false,"content":false,"excerpt":false},"hi":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"sw":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"ta":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"aioseo_notices":[],"aioseo_head":"\n\t\t<!-- All in One SEO 5.0.1.1 - aioseo.com -->\n\t<meta name=\"description\" content=\"{:en}By Dominika Kwasnicka, University of Melbourne, Australia and Rizmina Rilwan, Independent Researcher from Sri Lanka COVID-19 after the acute phase: what we\u2019re still learning While the acute phase of COVID-19 has been the focus of global attention, its long-term consequences are increasingly recognised in clinical practice. WHO identifies certain populations as being at higher risk\" \/>\n\t<meta name=\"robots\" content=\"max-image-preview:large\" \/>\n\t<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/module\/module-4\/\" \/>\n\t<meta name=\"generator\" content=\"All in One SEO (AIOSEO) 5.0.1.1\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:site_name\" content=\"Practical Health Psychology - Menterjemahkan penyelidikan untuk amalan. Penerbitan satu blog pada satu masa\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:title\" content=\"Hidup Setelah COVID-19: Mengelola Dampak Kesehatan Jangka Panjang - Practical Health Psychology\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:description\" content=\"{:en}By Dominika Kwasnicka, University of Melbourne, Australia and Rizmina Rilwan, Independent Researcher from Sri Lanka COVID-19 after the acute phase: what we\u2019re still learning While the acute phase of COVID-19 has been the focus of global attention, its long-term consequences are increasingly recognised in clinical practice. WHO identifies certain populations as being at higher risk\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/module\/module-4\/\" \/>\n\t\t<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-06-21T23:56:40+00:00\" \/>\n\t\t<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-10T09:24:19+00:00\" \/>\n\t\t<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n\t\t<meta name=\"twitter:title\" content=\"Hidup Setelah COVID-19: Mengelola Dampak Kesehatan Jangka Panjang - Practical Health Psychology\" \/>\n\t\t<meta name=\"twitter:description\" content=\"{:en}By Dominika Kwasnicka, University of Melbourne, Australia and Rizmina Rilwan, Independent Researcher from Sri Lanka COVID-19 after the acute phase: what we\u2019re still learning While the acute phase of COVID-19 has been the focus of global attention, its long-term consequences are increasingly recognised in clinical practice. WHO identifies certain populations as being at higher risk\" \/>\n\t\t<script type=\"application\/ld+json\" class=\"aioseo-schema\">\n\t\t\t{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\\\/module\\\/module-4\\\/#breadcrumblist\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id#listItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\",\"nextItem\":{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\\\/module\\\/module-4\\\/#listItem\",\"name\":\"Hidup Setelah COVID-19: Mengelola Dampak Kesehatan Jangka Panjang\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\\\/module\\\/module-4\\\/#listItem\",\"position\":2,\"name\":\"Hidup Setelah COVID-19: Mengelola Dampak Kesehatan Jangka Panjang\",\"previousItem\":{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id#listItem\",\"name\":\"Home\"}}]},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"Practical Health Psychology\",\"description\":\"Menterjemahkan penyelidikan untuk amalan. Penerbitan satu blog pada satu masa\",\"url\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\\\/module\\\/module-4\\\/#webpage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\\\/module\\\/module-4\\\/\",\"name\":\"Hidup Setelah COVID-19: Mengelola Dampak Kesehatan Jangka Panjang - Practical Health Psychology\",\"description\":\"{:en}By Dominika Kwasnicka, University of Melbourne, Australia and Rizmina Rilwan, Independent Researcher from Sri Lanka COVID-19 after the acute phase: what we\\u2019re still learning While the acute phase of COVID-19 has been the focus of global attention, its long-term consequences are increasingly recognised in clinical practice. WHO identifies certain populations as being at higher risk\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\\\/#website\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\\\/module\\\/module-4\\\/#breadcrumblist\"},\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"url\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/Module-4.jpeg\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\\\/module\\\/module-4\\\/#mainImage\",\"width\":1555,\"height\":1037},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\\\/module\\\/module-4\\\/#mainImage\"},\"datePublished\":\"2026-06-21T23:56:40+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-10T09:24:19+00:00\"},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\\\/\",\"name\":\"Practical Health Psychology\",\"description\":\"Menterjemahkan penyelidikan untuk amalan. Penerbitan satu blog pada satu masa\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/practicalhealthpsychology.com\\\/id\\\/#organization\"}}]}\n\t\t<\/script>\n\t\t<!-- All in One SEO -->\n\n","aioseo_head_json":{"title":"Hidup Setelah COVID-19: Mengelola Dampak Kesehatan Jangka Panjang - Practical Health Psychology","description":"{:en}By Dominika Kwasnicka, University of Melbourne, Australia and Rizmina Rilwan, Independent Researcher from Sri Lanka COVID-19 after the acute phase: what we\u2019re still learning While the acute phase of COVID-19 has been the focus of global attention, its long-term consequences are increasingly recognised in clinical practice. WHO identifies certain populations as being at higher risk","canonical_url":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/module\/module-4\/","robots":"max-image-preview:large","keywords":"","webmasterTools":{"miscellaneous":""},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/module\/module-4\/#breadcrumblist","itemListElement":[{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id#listItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id","nextItem":{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/module\/module-4\/#listItem","name":"Hidup Setelah COVID-19: Mengelola Dampak Kesehatan Jangka Panjang"}},{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/module\/module-4\/#listItem","position":2,"name":"Hidup Setelah COVID-19: Mengelola Dampak Kesehatan Jangka Panjang","previousItem":{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id#listItem","name":"Home"}}]},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/#organization","name":"Practical Health Psychology","description":"Menterjemahkan penyelidikan untuk amalan. Penerbitan satu blog pada satu masa","url":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/module\/module-4\/#webpage","url":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/module\/module-4\/","name":"Hidup Setelah COVID-19: Mengelola Dampak Kesehatan Jangka Panjang - Practical Health Psychology","description":"{:en}By Dominika Kwasnicka, University of Melbourne, Australia and Rizmina Rilwan, Independent Researcher from Sri Lanka COVID-19 after the acute phase: what we\u2019re still learning While the acute phase of COVID-19 has been the focus of global attention, its long-term consequences are increasingly recognised in clinical practice. WHO identifies certain populations as being at higher risk","inLanguage":"id-ID","isPartOf":{"@id":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/#website"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/module\/module-4\/#breadcrumblist"},"image":{"@type":"ImageObject","url":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Module-4.jpeg","@id":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/module\/module-4\/#mainImage","width":1555,"height":1037},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/module\/module-4\/#mainImage"},"datePublished":"2026-06-21T23:56:40+00:00","dateModified":"2026-09-10T09:24:19+00:00"},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/#website","url":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/","name":"Practical Health Psychology","description":"Menterjemahkan penyelidikan untuk amalan. Penerbitan satu blog pada satu masa","inLanguage":"id-ID","publisher":{"@id":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/#organization"}}]},"og:locale":"id_ID","og:site_name":"Practical Health Psychology - Menterjemahkan penyelidikan untuk amalan. Penerbitan satu blog pada satu masa","og:type":"article","og:title":"Hidup Setelah COVID-19: Mengelola Dampak Kesehatan Jangka Panjang - Practical Health Psychology","og:description":"{:en}By Dominika Kwasnicka, University of Melbourne, Australia and Rizmina Rilwan, Independent Researcher from Sri Lanka COVID-19 after the acute phase: what we\u2019re still learning While the acute phase of COVID-19 has been the focus of global attention, its long-term consequences are increasingly recognised in clinical practice. WHO identifies certain populations as being at higher risk","og:url":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/module\/module-4\/","article:published_time":"2026-06-21T23:56:40+00:00","article:modified_time":"2026-09-10T09:24:19+00:00","twitter:card":"summary_large_image","twitter:title":"Hidup Setelah COVID-19: Mengelola Dampak Kesehatan Jangka Panjang - Practical Health Psychology","twitter:description":"{:en}By Dominika Kwasnicka, University of Melbourne, Australia and Rizmina Rilwan, Independent Researcher from Sri Lanka COVID-19 after the acute phase: what we\u2019re still learning While the acute phase of COVID-19 has been the focus of global attention, its long-term consequences are increasingly recognised in clinical practice. WHO identifies certain populations as being at higher risk"},"aioseo_meta_data":{"post_id":"5018","title":null,"description":null,"keywords":null,"keyphrases":{"focus":{"keyphrase":"","score":0,"analysis":{"keyphraseInTitle":{"score":0,"maxScore":9,"error":1}}},"additional":[]},"primary_term":null,"canonical_url":null,"og_title":null,"og_description":null,"og_object_type":"default","og_image_type":"default","og_image_url":null,"og_image_width":null,"og_image_height":null,"og_image_custom_url":null,"og_image_custom_fields":null,"og_video":"","og_custom_url":null,"og_article_section":null,"og_article_tags":null,"twitter_use_og":false,"twitter_card":"default","twitter_image_type":"default","twitter_image_url":null,"twitter_image_custom_url":null,"twitter_image_custom_fields":null,"twitter_title":null,"twitter_description":null,"schema":{"blockGraphs":[],"customGraphs":[],"default":{"data":{"Article":[],"Course":[],"Dataset":[],"FAQPage":[],"Movie":[],"Person":[],"Product":[],"ProductReview":[],"Car":[],"Recipe":[],"Service":[],"SoftwareApplication":[],"WebPage":[]},"graphName":"WebPage","isEnabled":true},"graphs":[]},"schema_type":"default","schema_type_options":null,"pillar_content":false,"robots_default":true,"robots_noindex":false,"robots_noarchive":false,"robots_nosnippet":false,"robots_nofollow":false,"robots_noimageindex":false,"robots_noodp":false,"robots_notranslate":false,"robots_max_snippet":"-1","robots_max_videopreview":"-1","robots_max_imagepreview":"large","priority":null,"frequency":"default","local_seo":null,"breadcrumb_settings":null,"limit_modified_date":false,"ai":{"faqs":[],"keyPoints":[],"schemas":[],"titles":[],"descriptions":[],"socialPosts":{"email":{"subject":"","preview":"","content":""},"linkedin":[],"twitter":[],"facebook":[],"instagram":[]}},"created":"2026-06-22 10:56:41","updated":"2026-09-10 10:06:50","seo_analyzer_scan_date":null,"focus_keyword":null,"additional_keywords":null,"truseo_locale":null},"aioseo_breadcrumb":"<div class=\"aioseo-breadcrumbs\"><span class=\"aioseo-breadcrumb\">\n\t\t\t<a href=\"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\" title=\"Home\">Home<\/a>\n\t\t<\/span><span class=\"aioseo-breadcrumb-separator\">&raquo;<\/span><span class=\"aioseo-breadcrumb\">\n\t\t\tHidup Setelah COVID-19: Mengelola Dampak Kesehatan Jangka Panjang\n\t\t<\/span><\/div>","aioseo_breadcrumb_json":[{"label":"Home","link":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id"},{"label":"Hidup Setelah COVID-19: Mengelola Dampak Kesehatan Jangka Panjang","link":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/module\/module-4\/"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/module\/5018","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/module"}],"about":[{"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/module"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5171"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/practicalhealthpsychology.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5018"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}